PARAGRAF NARATIF dan DESKRIPTIF

Written By Zainul.A on Senin, 23 April 2012 | 04.40


1. Paragraf Naratif
A.   Pengertian Paragraf Naratif

            Karangan Naratif adalah karangan berbentuk kisahan yang terdiri atas kumpulan yang disusun secara kronologis (menurut urutan waktu) sehingga menjadi suatu rangkaian. Dalam karangan naratif, kita harusbisa menghadirkan tulisan yang membawa pembaca pada petualangan seperti yang kita alami. Dengan demikian, para pembaca akan merasa-kan urutan waktu yang digambarkan dalam tulisan. Urutan waktu yang diisi dengan berbagai kegiatan tersebut akan menghasilkan tulisan naratif yang menarik untuk dibaca.
Teks naratif terdiri dari tiga bagian utama:
1.    Orientation yaitu bagian dimana pengarang melukiskan dunia untuk ceritanya, dibagian inilah diperkenalkan dimana dan kapan peristiwa terjadi serta para tokoh;
2.    Complication yaitu bagian dimana tokoh utama menghadapi rintangan dalam mencapai cita - citanya, bagian dimana komplik mulai terjadi.
3.    Resolution yaitu bagian permasalahan yang dihadapi tokoh utama diselesaikan. Pada bagian ini mempunyai dua kecendrungan, yaitu mengakhiri cerita dengan kebahagiaan (happy ending) dan atau mengakhiri cerita dengan kesedihan (sad ending), tetapi ada juga teks naratif yang membiarkan pembaca/ pendengar menebak akhir cerita.

B.   CIRI-CIRI KARANGAN NARASI
Menurut Keraf (2000:136), ciri karangan narasi yaitu:
*      Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan.
*      Dirangkai dalam urutan waktu.
*      Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang terjadi?
*      Ada konfiks.
Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut:
·         Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis.
·         Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya. Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik. Memiliki nilai estetika.
·         Menekankan susunan secara kronologis.

C.   Jenis-jenis Paragraf Narasi
a.    Narasi Ekspositorik (Narasi Teknis)
            Narasi Ekspositorik adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang. Dalam narasi ekspositorik, penulis menceritakan suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku yang ditonjolkan biasanya satu orang. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini sampai terakhir dalam kehidupannya. Karangan narasi ini diwarnai oleh eksposisi, maka ketentuan eksposisi juga berlaku pada penulisan narasi ekspositorik. Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta yang ada, tidak memasukan unsur sugestif atau bersifat objektif.
Contoh:
Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuahkontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodiutamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin. Sumber : Tempo, 20 Februari 2005
b.    Narasi Sugestif
            Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.
Contoh:
            Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ketubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelummengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut  pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal.Sumber : Terampil Menulis Paragraf, 2004 : 66

D.   Langkah-langkah Membuat Paragraf Naratif
Kegiatan menulis karangan naratif dilakukan dengan langkah-langkah berikut.
1)    Tentukan dulu tema dan amanat yang akan disampaikan.
2)    Tetapkan sasaran pembaca kita.
3)    Rancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur.
4)    Bagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal, perkembangan, dan akhir cerita.
5)    Rincian peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiwa sebagai pendukung cerita.
6)    Susun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.

            Teks naratif pada dasarnya adalah teks yang menceritakan sesuatu (Cory, 2002). Menurut Derewianka (dalam Mirjam Anugerahwati, 2004) teks naratif bertujuan untuk menghibur, untuk mendapat dan mempertahankan perhatian pembaca / pendengar cerita. Teks naratif bertujuan juga untuk mendidik, memberitahu, menyampaikan refleksi tentang pengalaman pengarangnya, dan yang tak kurang pentingnya ialah untuk mengembangkan imajinasi pembaca / pendengar. Teks naratif umumnya bersifat imajiner, tetapi ada juga teks naratif yang bersifat faktual, yaitu menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
Ada beberapa jenis teks naratif yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari - hari, misalnya dongeng, legenda, cerita misteri, cerita horor, roman, dan cerita pendek.

E.    Unsur-unsur dan Tujuan Paragraf Narasi
Sebuah paragraf narasi dapat dibangun dengan unsur-unsur berikut:
  1. Tema adalah pokok pembicaraan yang menjadi dasar penceritaan penulis
  2. alur adalah jalinan cerita, bagaimana cerita itu disusun  sehingga peristiwa demi peristiwa dapat terjalin dengan baik
  3. Watak atau karakter berhubungan dengan perangai si pelaku atau tokoh dalam suatu narasi
  4. Suasana berhubungan dengan kesan yang ditimbulkan sehingga pembaca dapat ikut membayangkan dan merasakan suasana yang dihadapi pelaku
  5. Sudut pandang berhubungan dengan darimana penulis memandang suatu peristiwa 
Tujuan menulis karangan narasi secara fundamental yaitu:
1.)   Hendak memberikan informasi atau wawasan dan memperluas pengetahuan.
2.)   Memberikan pengalaman estetis kepada pembaca.

Contoh;
         Suwarni bernyanyi. Suaranya halus dan tenang, mengurai kesunyian. Ia bernyanyi, seraya berjalan lambat-lambat. Nyanyian yang mrmancar dari dalam lubuk hatinya; berirama mesra seorang ibu. Lembut-lembut.
         Suwarni sedang menidurkan anaknya. Suaranya menggenang di udara. Membelai-belai si kecil-nakal di dadanya. Sehingga tangan yang kecil montok itu tiada lagi bergerak-gerak, kakinya tak lagi meronta-ronta. Rianto berdiam diri. Hanya matanya mengedip-ngedip. Memandang wajah ibunya. Wajah yang terpatri selamanya di dalam hati nuraninya. Wajah yang senantiasa jernih, lembut pada pemandangannya itu.
            Matanya mengecil, akhirnya lelap menutup. Rianto tertidur diliputi kasih mesra ibunya.
Tips menulis paragraf naratif;
  • Kembangkan pola narasi secara runtut,
    Bagian awal dengan memperkenalkan tokoh-tokoh   
  • Berikan latar belakang yang diperlukan untuk kelancaran cerita
  • Komplikasi, pertikaian yang menjurus ke konflik terdapat di bagian tengah
  • Klimaks adalah konflik yang paling menentukan
  • Bagian akhir / penyelesaian menceritakan nasib tokoh-tokoh yang terlibat

2. Paragraf Deskripsi
A.   Pengertian Paragraf Deskripsi
Kata deskripsi berasal dari bahasa latin discribere yang berarti gambaran, perincian, atau pembeberan. Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan dan pengalaman penulisnya. Tujuannya adalah pembaca memperoleh kesan atau citraan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis sehingga seolah-olah pembaca yang melihat, merasakan, dan mengalami sendiri obyek tersebut. Untuk mencapai kesan yang sempurna, penulis deskripsi merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.
Deskripsi merupakan salah satu teknik menulis menggunakan detail dengan tujuan membuat pembaca seakan-akan berada di tempat kejadian, ikut merasakan, mengalami, melihat dan mendengar mengenai satu peristiwa atau adegan. Menulis deskripsi bisa membuat karakter yang digambarkan lebih hidup gambarannya di benak pembaca.
Sebuah obyek dalam deskripsi tidak hanya terbatas pada sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicium, diraba, dan dirasa saja, tetapi dapat pula berupa perasaan hati seperti rasa cemas, rasa takut, rasa jijik, rasa kasih, rasa cinta, rasa haru, dan sebagainya.
           
Penulis deskripsi yang baik, akan berusaha untuk melukiskan suatu obyek dengan sejelas-jelasnya. Dalam hal ini, seluruh pancaindera penulis harus aktif dan peka. Ia berusaha menyajikan perincian-perincian sedemikian rupa dengan pengalaman-pengalaman faktualnya. sehingga obyek betul-betul kelihatan hidup.
Deskripsi pada dasarnya tidak dapat berdiri sendiri. Ia hanya menjadi alat bantu dalam suatu karangan. Dalam paparan atau eksposisi, deskripsi berperan untuk menghidupkan pokok pembicaraan. menghindarkan kebosanan dan keengganan pembaca, serta menambah kejelasan. Dalam sebuah karya narasi rekaan (karya fiksi), deskripsi juga bersifat fiktif dan berfungsi untuk menghidupkan cerita. Sedangkan dalam karya yang berbentuk argumentatif, deskripsi digunakan secara efektif untuk lebih meyakinkan pembaca.
B.   Ciri-ciri paragraf Deskripsi
Karangan deskripsi memiliki ciri-ciri seperti:
  • menggambarkan sesuatu
  • penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera,
  • membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
Secara umum, paragraf deskripsi dibedakan atas dua macam, yaitu :
1.    Deskripsi Imajinatif/Impresionis adalah paragraf yang melukiskan ruang atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa. Pelukisannya harus dilihat dari berbagai segi agar ruang tersebut tergambar dengan jelas dalam pikiran dan perasaan pembaca.
Contoh :
Malam gelap gulita di hulu sungai Brantas. Ketahuan. Sebentar-sebentar hiruk pikuk yang tiada berketentuan itu menjadi satu dengan gegap gempita yang mendasyatkan dan mengecilkan hati, pertanda seorang raja rimbah alah jatuh ke tanah untuk selama-lamanya.
Ramai peperangan di rimba itu dan rupanya tak akan berhenti. Tak ada kasihan- mengasihani, yang rebah tinggal rebah, tak akan ada yang mengangkatnya.
     Sekali-kali terang cuaca hutan belantara itu, seperti diserang api. Tetapi kenyataanya dalam sekejap mata hilangnya cahaya yang berani menyerbukan dirinya ke tengah peperangan itu, dimusnakan oleh musuh lamnya “raja gulita”.
2.    Deskripsi faktual/ekspositoris adalah paragraf yang menggambarkan suatu hal atau orang dengan mengungkapkan identitasnya secara apa adanya sehingga pembaca dapat membayangkan keadaannya. Agar suatu objek mampu membangkitkan daya khayal pada diri pembaca, penulis harus melukiskannya dari berbagai sudut pandang. Semakin rinci penulisannya, semakin jelas tergambar dalam bayangan pembaca.
Apabila objek yang dilukiskan itu adalah seseorang, perinciannya dapat dilakukan terhadap aspek fisik maupun aspek rohaninya. Aspek rohani meliputi perasaan, watak, bakat, peranannya dalam suatu bidang kerja dsb.
Contoh :
Di sudut dekat pintu duduk seorang laki-laki. Namanya Paijo. Dia memakai celana pendek dan baju kaos yang telah sobek-sobek, yang melukiskan kemelaratan dan kemiskinan yang sehari-hari dideritanya. Pada dadanya yang bidang dan berisi, lengannya yang kukuh penuh urat dapat dilihat betapa berat pekerjaan sehari-harinya.
Air mukanya yang keruh, pipinya yang kempis dan matanya yang cekung menyatakan bahwa jalan hidup yang telah ditempuhnya penuh rintangan dan duri.
D.   Langkah menyusun deskripsi
Langkah menyusun deskripsi:
a.    Tentukan objek atau tema yang akan dideskripsikan
b.    Tentukan tujuan
c.    Mengumpulkan data dengan mengamati objek yang akan dideskripsikan
d.    Menyusun data tersebut ke dalam urutan yang baik (menyusun kerangka karangan)
e.    Menguraikan kerangka karangan menjadi dekripsi yang sesuai dengan tema yang ditentukan
E.   Pola Pengembangan Paragraf Deskripsi
Pola pengembangan paragraf deskripsi:
  • Paragraf Deskripsi Spasial, paragraf ini menggambarkan objek kusus ruangan, benda atau tempat.
  • Paragraf Deskripsi Subjektif, paragraf ini menggambarkan objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
  • Paragraf Deskripsi Objektif, paragraf ini menggambarkan objek dengan apa adanya atau sebenarnya.
Contoh Karangan Deskriptif Berlagu:
     Dari barat. Dari timur, selatan dan utara. Ramai orang berbondong-bondong ke destinasi yang sama. Dari pagi ke petang hingga ke lepas dinihari. Berasak-asak dalam bahang biar bau peluh basi. Keinginan yang kuat tak sedikit pun menjera.         
    Tiap sudut tiap gerai ada saja tarikannya.Lirik mata menjeling, mengacu, menembak setepat-tepatnya. Harap-harap ada sesuatu yang mengena perhatian. Andai hati terpaut pasti akan jadi rebutan. Kata seorang pegerai selera pembeli ikut minggu bulan puasa.
    Minggu pertama pengunjung suka bersama teman-teman. Dari pangkal hingga hujung mereka cuma jalan-jalan. Kata orang putih mereka mahu ‘window shopping’ saja. Belek itu belek ini tidak henti duga harga. Pembeli masa kini bijak menaksir perbelanjaan. Kata pakar kewangan "Rancang Dulu Beli Kemudian".
    Dari sebuah gerai kelihatan seorang pegerai yang sedang duduk di atas sebuah tangga. Pegerai itu melaung:
" Mari teman mari handai. Tidak kira apa bangsa. Kita naik mrt, bas, motor, lori atau kereta. Jalan kaki pun boleh asal kita berhati-hati. Yok, ke bazaar yang tumbuh bak cendawan selepas hujan."
    Minggu kedua pengunjung akan bertukar selera. Kaki tangan pemerintah tersenyum selebar-lebarnya. 12 hari bulan masuk gaji menerusi GIRO. Penuh sesak ‘Joo Chiat Complex’ bak ada tawaran IPO. Dendangan lagu hari raya mula rancak bergema.
    Minggu ketiga Geylang makin dibanjiri manusia. Lepas terawih makin rancak makin hangat suasana. Pegerai tambah mesra melayani semua pelanggan. Maklumlah, persaingan sengit, tinggi pula harga sewaan. Cukup andai balik modal. Jika untung bonus namanya.
   
Pegerai di atas tangga masih melaungkan:
"Mari teman mari handai. Tidak kira apa bangsa. Kita naik mrt, bas, motor, lori atau kereta. Jalan kaki pun boleh asal kita berhati-hati. Yok, ke bazaar tahun ini kalau tidak bilakah lagi?"
    Minggu keempat demam hari raya mula melanda. Lampu ‘lap-lip’ terpancar di kekisi tiap jendela. Rumah pangsa Geylang Serai bak letusan bunga api. Kesesakan jalan raya hingga pukul satu pagi. Manakan tidak, semua barang turun harga!
    Hari terakhir Ramadhan pasar Geylang jadi tumpuan. Suri rumah beli bekalan hidangan hari raya. Lembu, kambing, ayam segar tetap menu utama. Janur, tahu dan tempeh tinggi kadar permintaannya. Semalaman bersiap kerana esok HARI RAYA!!!!
    Pegerai di atas tangga mengeluarkan alat penguat suara lalu melaung dengan sekuat-kuat hatinya:
"Selamat Hari Raya. Ampun maaf pun dipinta. Miskin kaya bergembira. Sambut dengan sederhana. Jangan lupa berjemaah. Biar sunnah besar berkahnya. Pulang kelak makan semeja. Tambah mesra sekeluarga. Hah mari ya, Selamat.Hah Hari Raya ya, Hari Raya. Sekali lagi, Selamat, Hari Raya okay, Hari Raya."

Sumber:


0 komentar:

Poskan Komentar